Kateterisasi Jantung

Oleh dr. Robin Hendra Wibowo

Penyakit jantung merupakan salah satu penyebab utama kematian di dunia. Satu dari lima kematian yang terjadi disebabkan oleh penyakit jantung. Plak ” karat” merupakan gabungan lemak, kolesterol, kalsium, dan substansi lain. Adanya plak karat dalam pembuluh darah mengakibatkan penyempitan pembuluh darah sehingga mengakibatkan menurunnya aliran darah pada jantung. Hal inilah yang disebut dengan penyakit jantung koroner. Dengan menggunakan teknik pemerisaan kateterisasi jantung, plak karat ini dapat diketahui dengan tingkat ketepatan paling tinggi (99 – 100%) sehingga dapat dipastikan apakah Anda mempunyai penyakit jantung koroner

.
Gambar 1.     Ilustrasi proses pemasangan kateter melalui pembuluh darah paha hingga menuju arteri koroner.


Istilah kateterisasi jantung mungkin masih terdengar asing bagi sebagian besar masyarakat. Kateterisasi jantung atau arteriografi koroner merupakan suatu prosedur medis yang dilaksanakan dengan tujuan mendeteksi, mencari atau mengobati penyakit jantung. Sebuah selang yang panjang, tipis, dan fleksibel, disebut juga kateter, dimasukkan ke dalam tubuh melalui pembuluh darah besar melalui lengan, paha bagian atas, atau leher. Secara perlahan kateter dimasukkan menuju ke jantung. Seringkali prosedur ini juga menggunakan semacam zat khusus, sehingga plak “karat” pembuluh darah dapat dilihat dengan jelas dengan menggunakan bantuan sinar X. Dengan pemberian zat ini melalui kateter, dokter dapat mengetahui struktur, fungsi jantung, dan kelainan koroner dari segi letak, luas, serta berat atau derajat penyempitan pembuluh darah koroner. Selama prosedur yang berlangsung 1 – 2 jam ini, pasien tetap sadar dan hanya sedikit rasa sakit yang ditimbulkan.
Dengan semakin meningkatnya teknologi kedokteran, khususnya di bidang subspesialis jantung (Kateterisasi dan Intervensi), maka saat ini telah tersedia peralatan yang sangat canggih. Dengan peralatan mutakhir yang dioperasikan oleh Spesialis Jantung yang terlatih dan berpengalaman dan didukung oleh Rumah Sakit yang memiliki fasilitas pendukung yang lengkap, maka tindakan kateterisasi dapat dianggap tidak berisiko, terbukti aman, dan jarang menimbulkan komplikasi.
Dengan semakin majunya perkembangan teknologi intervensi, maka saat ini sudah sangat jarang pasien yang perlu menjalani operasi bypass akibat dari sumbatan jantung koroner. Hampir seluruh kasus penyakit jantung koroner dapat ditangani dengan teknik intervensi ini. Salah satu prosedur non-bedah yang paling sering dilakukan adalah Percutanueous Transluminal Coronary  Angioplasty (PTCA). Tindakan “peniupan” atau “balonisasi” ini bertujuan untuk melebarkan penyempitan pembuluh koroner dengan menggunakan kateter khusus yang ujungnya mempunyai balon. Balon dimasukkan dan dikembangkan tepat ditempat penyempitan pembuluh darah jantung. Dengan demikian penyempitan tersebut menjadi terbuka sehingga aliran darah koroner menjadi lancar kembali.


Gambar 2.     Hasil arteriografi koroner dimana pada gambar kanan dapat dilihat adanya penyempitan arteri koroner (gambar panah) sebelum dilakukan tindakan, sedangkan setelah dilakukan tindakan peniupan dan pemasangan cincin, pada gambar kanan tidak terlihat adanya penyempitan lagi.

Untuk menyempurnakan hasil peniupan ini, kadang diperlukan tindakan lain yang dilakukan dalam waktu yang sama, seperti pemasangan ring atau cincin penyanggah (Stent) untuk menjaga patensi aliran darah koroner, pengeboran kerak di dalam pembuluh darah (Directional Atherectomy).
Sayangnya, di Indonesia pemanfaatan teknik ini masih terbentur banyak kendala. Di samping terbatasnya fasilitas dan sumber daya manusia, masalah biaya menjadi persoalan yang utama. Untuk pelaksanaan prosedur ini, harus merogoh kantong dalam-dalam, Biayanya bekisar antara 25 – 30 juta. Tak heran bila saat ini, teknik pengobatan canggih itu hanya dapat dinikmati komunitas berkantong tebal.

Pustaka
Chernecky CC, Berger BJ, eds. (2004). Laboratory Tests and Diagnostic Procedures, 4th ed. Philadelphia: Saunders.
Fischbach FT, Dunning MB III, eds. (2004). Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, 7th ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
Handbook of Diagnostic Tests (2003). 3rd ed. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
Pagana KD, Pagana TJ (2002). Mosby’s Manual of Diagnostic and Laboratory Tests, 2nd ed. St.

Medical Reviewer     Dr. Ketut Rina, Sp. PD, Sp. JP(K), FIHA
Kepala SMF Jantung dan Pembuluh Darah RSUP Sanglah, Denpasar

Share

Tags: , , , , ,

38 Responses to “Kateterisasi Jantung”

  1. ida Says:

    thanks for this article, doct. Really need the information in it.

  2. dewi vitri Says:

    sepertinya suami saya butuh tindakan kateterisasi, kira2 berapa ya biayanya?

  3. rodaro Says:

    katerisasi merupakan prosedur yang memang cukup mahal, bu dewi. tetapi hal ini sangat bergantung pada kasus yang dihadapi, lokasi rumah sakit, dan sarana yang tersedia. mgkn ibu bisa memberiman informasi lebih mengenai kasus suami anda, seperti pembuluh areri koroner yang mana yang terlibat, berapa parah keadaanya. mgkn saya bisa memberikan informasi lebih banyak. terimakasih

  4. leilyassih Says:

    bagaimana proses kateter yg dilakukan pd bayi berusia 4-5 bln ? setahu saya sebelum dilakukan kateter, pasien harus puasa selama 4 jam. apakah perlakuan sama dg bayi ?

  5. rodaro Says:

    dear bu leily
    untuk proses kateter bayi 4-5bln prosedur kateter yang dilakukan kurang lebih sama dengan dewasa
    tetapi ada beberapa perbedaan.
    1. pemilihan akses jalan masuk kateter krn pada bayi pembuluh darah nya sangat kecil sehingga lebih dipilih melalui pembuluh darah besar
    2. pembiusan yang digunakan untuk bayi dan anak2 berupa pembusan umum, maksudnya bayi ibu akan ditidurkan biasanya dengan metode sungkup
    3. yang terpenting adalah persiapan gizi bayi ibu
    semoga proses tindakan berhasil dengan baik

  6. anna ningsih Says:

    pemeriksaan awal apa kriteria apa sebenarnya orang butuh katerisasi

  7. rudy kurniady Says:

    apakah dengan kateterisasi dan pemasangan stent secara permanen di koroner jantung tidak akan membahayakan pasein bila tidak timbul gejala angina..?

  8. heru Says:

    Stlh tes treatmill sy divonis koroner, apakah setelah proses kateter ini pasti berlanjut dg pasang ring ?
    Dimana bisa dilakukan di surabaya ? Thanks

  9. rodaro Says:

    terima kasih atas commentnnya pak heru

    memang treadmill ECG test salah satu metode untuk screening/penyaringan penyakit jantung koroner. bila terbukti dinyatakan positif, memang sudah seharusnya ditindaklanjuti. ada beberapa cara untuk memastikan atau crosscheck. yaitu : CT Cardiac scan dan angiografi koroner. untuk pemasangan ring diperlukan persyaratan khusus dan bila plak yang ditemukan memang mempunyai potensi mengancam keselamatan sel jantung.

    pemeriksaan crosscheck ini dan pemasangan ring sudah dapat dilakukan dengan baik di indonesia. di surabaya ada beberapa tempat seperti Musi heart Clinic, Siloam hospital, Mitra keluarga surabaya di surabaya barat, RS Darmo, RS husada Utama, dan RSU dr. Soetomo.

    semoga informasi berguna untuk Bapak Heru

  10. rodaro Says:

    terima kasih untuk komennya pak Rudy
    untuk penggunaan stent ada dua macam yaitu bare metal stant (BMS) atau stent/cincin berbahandasar metal polos dan ada drug eluting stent (DES atau cincin/sten dengan obat yang terpadu didalam metal stent tersebut. untuk bahan metalnya memang khusus dibuat berasal dari metal yang bersifat inert(netral) sehingga tidak menimbulkan reaksi tubuh. stent didesign tahan minimal 25 tahun, memang ada kejadian sekitar1-5% stent allergy tetapi hal ini jarang ditemukan dan manifestasinya juga tidak membahayakan.
    kembali lagi tetap kita pertimbangkan antara benefit dan risknya.
    semoga membantu
    terimakasih

  11. santi mandalika Says:

    salam kenal,
    seberapa akuratkah deteksi penyumbatan pembuluh darah jantung tsb dg kateterisasi dibanding dg metode CT Scan?
    terima kasih banyak sebelumnya…

  12. Hendra Says:

    Ada beberapa hal yg bermaksud saya tanyakan:
    1. Apakah ada kadaluarsa pemakaian ring atau ring tersebut bisa bertahan berapa lama? Menurut teman saya bisa 10 tahun an? Jika memang ada batas waktu nya, apakah ring yang berbahan metal tersebut berbahaya untuk jantung? Apa tanda tanda ring tersebut sudah tidak bisa dipakai? Apakah Ring tersebut dikeluarkan dan diganti yang baru?
    2. Dengan pemakaian ring, apakah tidak lebih memudahkan terjadinya penumpukan lemak, kolestrol dan lainnya pada posisi pre-ring (tempat sebelum posisi ring di letakan)?
    3. Kenapa lemak, kolestrol, kalsium, dll bisa menempel pada pembuluh darah terutama di Jantung? Apakah tidak ada obat medis atau alternatif yang dapat mengikis penumpukan tersebut?
    4. Apakah penyebutan darah kotor sama dengan darah yang penuh dengan penumpukan lemak kolestrol kalsium dll ? Apakah Lintah dapat mengisap darah kotor atau ini hanya rumor belaka?
    5. Pada saat pengecekan kateter awal untuk mengecek apakah ada penyumbatan pada saluran darah, apakah langsung dapat dipasang ring jika memang terlihat ada penyumbatan ?
    Pada kasus Ibu saya, Dokter yg melakukan kateter tidak mau memasukkan ring dan menyuruh Ibu saya untuk minum obat Plafix terlebih dahulu. Apakah memang harus memakan obat tersebut dan jika tidak apakah ada side efeknya?
    6. Setelah melakukan pemasangan ring, apakah tetap harus memakan obat terus seumur hidup ? (Maaf saya dapat info kalau seseorang setelah memasang ring harus makan obat dalam jangka waktu lama, namun saya tidak mengetahui nama obat tersebut). Obat apakah yang dimaksudkan tersebut dan apakah fungsi dari obat tersebut ?
    7. Bila pemprosesan pemasangan ring tidak memakan waktu yang lama serta beresiko kecil, kenapa Ibu saya di informasikan akan ditempatkan di kamar ICU untuk 1 malam?

    Saat ini Ibu saya belum melakukan pasang ring dan akan segera melakukan pasang ring, tetapi alangkah lebih baiknya jika saya mendapatkan informasi yang lebih dalam lagi.
    Ibu saya berumur 66 tahun memiliki gula darah sedikit sekali.
    Tekanan darah normal, tidak memiliki darah tinggi, berat badan sedikit gemuk.
    Terima kasih

  13. jengnarti Says:

    teman saya akan menjalani kateterisasi jantung. kt dokter jkt, salurannya tersumbat karena asam lambung, rokok. seandainya karangnya cukup parah, apakah bs dipastikan tidak dibypass, krn dia jg punya darah tinggi, pernah stroke. di malaysia di rumah sakit mana?

  14. yuli Says:

    saya pernah dengar kateterisasi itu ada yang menghabiskan biaya hingga 300-400 juta. itu untuk tindakan kateterisasi yang seperti apa? kemudian pada kerusakan jantung iskemik yang luas apakah masih bisa dilakukan cara PTCA atau harus bedah thorax??

  15. oscar Says:

    Saya punya keluhan nyeri dada dan sesak, stlh kateter mk hasilnya Mid RC penyempitan 40% dan di Prox LAD 40% . Belum dianjurkan utk pasang ring , hanya diberi crestor dan cardio aspirin. krn lambung saya nyeri maka cardio aspirin distop hanya tinggal Crestor saja. Apakah memang dmk therapinya ? artinya apakah krn hanya 40% maka dibiarkan saja , apakah nantinya tdk bertambah parah lalu baru di stent ? Cardio aspirin adalah 160 mg , apakah ada merk lain yang hanya 80 – 100 mg spy tdk terlalu iritasi lambung ? dan apakah dosis 80 – 100 mg juga masih efektif utk sebagai antithrombolitik ? Terima kasih atas penjelasannya

  16. raras Says:

    ayah saya sakit jantung kemudian d echo.hasilnya ada 3 katup yg bocor dan pembengkakan jantung. lalu dokter menyarankan kateterisasi. bgmn proses kateterisasi itu utk kondisi sperti ayah saya?apakah bisa menyembuhkan?
    trmksih

  17. rodaro Says:

    Selamat malam, Raras
    melihat sekilas dari kasus ayah anda, dalam hal ini katerisasi kemungkinan besar ditujukan untuk melihat kondisi anatomis pembuluh darah koroner ayah anda, selain itu dapat juga memeriksa secara langsung perbedaan tekanan antar ruang jantung (sehubungan dengan katup bocor) untuk menilai berat tidaknya katup yang bocor. dalam pemeriksaan katerisasi banyak hal yang dapat membantu dalam hal diagnosa dan terapi bila ada kelainan.
    bila ada data lengkap akan lebih membantu, seperti katup mana saja yang bocor, berapa ejeksi fraksi jantung, tekanan darah, dan gejala yang dikeluhkan.

    semoga membantu, silakan bebas bertanya

    best regard,

    dr. Robin H Wibowo

  18. rodaro Says:

    Selamat malam Pak Oscar
    pertanyaan anda bagus sekali, dalam hal penanganan penyakit jantung koroner ada banyak modalitas yang dapat digunakan dan obat hanyalah salah satu dari modalitas tersebut. Dalam hal asam salisilat(cardio aspirin) memang sudah terbukti dalam penelitian sangat membantu mengurangi resiko penyakit jantung koroner, poembuluh darah tepi dan stroke iskemi. dosis yang disarankan untuk tujuan preventif ini berkisar antara 80-160 mg. untuk obat yang beredar di masyarakat kebanykan dengan dosis 80 mg dimana dosis ini merupakan dosis efektif sebagai anti platelet untuk pasien dengan berat badan 60-70 kg.
    hal yang lebih penting daripada terapi obat adalah terapi gaya hidup. dimana olahraga 30 menit sehari selama 5x seminggu, diet makanan tepat dan sehat, manajemen stress, istirahat cukup, dan kontrol teratur.

    semoga penjelasan ini membantu anda

    best regard,

    dr. Robin H Wibowo

  19. rodaro Says:

    Salam kenal Bu Santi
    sorry for the late reply
    untuk masing-masing modalitas memiliki kelebihan dan kekurangan masing2
    untuk deteksi penyumbatan pembuluh darah koroner, katerisasi (angiografi coroner) memiliki akurasi yang lebih tinggi ( sensitifitas dan spesifitas yang lebih tinggi), tetapi metode yang digunakan adalah non invasif, yaitu dengan memasukkan selang kateter pembuluh darah dan laangsung menuju jantung, selain itu katerisasi memiliki kelebihan lain, yaitu dapat mengukur perbedaan tekanan antara ruang jantung, hasil anatomis pembuluh koroner yang lebih sempurna, dan dapat dilakukan tindakan terapi secara langsung bila diperlukan.
    Sedangkan CT scan juga memiliki akurasi yang cukup tinggi untuk mendeteksi kelainan pembuluh darah koroner, anatomi jantung,dll. dan menggunakan metode non invasif, sehingga lebih nyaman untuk pasien.
    semoga penjelasannya membantu

    Best regard,

    dr. Robin H Wibowo

  20. rodaro Says:

    Salam kenal pak Hendra
    terima kasih atas pertanyaannya, kami akan coba membantu informasi
    maaf atas keterlambatannya dikarenakan masalah teknis blog akan serangan spam
    1. Ring yang digunakan bermacam2 dan memiliki durabiitas yang berbeda, pada generasi awal ring/ stent dibuat dengan menggunakan bahan metal inert. dimana metal itu khusus dibuat dan dipilh yang tidak bereaksi dengan kekebalan tubuh, jadi metal tersebut tidak akan pernah berkarat. untuk ring generasi baru, berbagai macam yang digunakan terutama menggunakan monofilamen yang bersalut obat sehingga keefektifan dan durabilitas ring meningkat jauh dibanding generasi awal. ring yang dipasang tidak untuk dilepas kembali.
    2. memang salah satu kelemahan dari ring generasi awal yang merupakan bare metal stent(BMS) jadi hanya murni besi saja merupakan terjadi penyumbatan berulang ditempat awal pemasangan ring (instent restenosis), walaupun kejadian ini cukup jarang, tetapi hal ini dapat diantisipasi dengan ring generasi baru bersalut obat ( drug eluting stent/DES).
    3.banyak faktor (multifaktorial) yang mempengaruhi hal ini, genetik, umur, hormonal, aktifitas, diet. Untuk mengontrol penumpukan ini jelas ada obat yang bisa digunakan, tetapi yang terutama adalah gaya hidup sehat (diet sehat DASH, olahraga teratur) terutama mengacu konsep go green.
    4.istilah darah kotor sudah ditinggalkan dalam dunia medis. tubuh mempunyai sistem sirkulasi yang berkesinambungan dan sistem ekskresi/pembuangan yang efektif. lintah hanya akan menyerap darah kapiler dimana darah ini sering diartikan darah kotor, sama halnya spt nyamuk yang menghisap darah kita. hal yang jauh lebih bermanfaat untuk diri anda dan orang lain adalah berdonor darah secara teratur. hal ini bermanfaat untuk merangsang pembentukan darah baru dan sistem sirkulasi.
    5. setelah melakukan katerisasi, tidak serta merta semua penyumbatan memperlukan ring, harus dilihat kasus per kasus. pemasangan ring hanya diperlukan bila karat/plak tidak stabil, lebih dari 50% penyumbatan, sistem kolateral yang tidak baik, juga banyk hal yang perlu dipertimbangkan, seperti usia, penyakit yang ada, dll.
    6.setelah pemasangan ring diperlukan obat pengencer darah yang diminum secara rutin selama 1 thn, hal ini diberikan dengan tujuan preventif terhadap penyakit jantung koroner, stroke iskemi, dan penyakit pembuluh darah perifer.
    7.perawatan ICU selama 1 malam ditujukan untuk monitoring intensif terhadap pasien, karena segala tindakan invsasif yang dilakukan tentu melekat resiko yang dapat terjadi. Resiko yang terutama untuk katerisasi adalah timbulnya aritmia, gangguan hemodinamik, perdarahan, dan reaksi anafilaktik.

    melihat profil ibu anda secara sekilas dapat digolongkan low hingga medium risk, tetapiuntuk menyimpulkan memperlukan data yang lebih lengkap.
    semoga penjelasan ini membantu pak Hendra dan keluarga

    Best regard,

    dr. Robin H Wibowo

  21. rodaro Says:

    Salam kenal, Jeng Narti
    untuk pertimbangan apakah perlu katerisasi dan pemasangan ring atau memperlukan bypass diperlukan pemeriksaan pembuluh darah koroner. bila memang diperlukan bypass akan memperlukan persiapan. untuk melakukan bypass dan katerisasi, tidak perlu jauh2 di luar negeri. kitapun punya tenaga dan fasilitas yang handal. bila anda di jkt saya sarankan di RS Jantung Harapan Kita. bisa langsung menemui ahlinya yaitu dr. Sunarya S., Sp JP (K) beliau sangat ahli di bidang koroner.
    Semoga membantu

    best regard,

    dr. Robin H. Wibowo

  22. rodaro Says:

    salam kenal bu Yuli
    untuk biaya memang sangat tergantung dari jenis dan jumlah ring serta sentra kesehatan mana yang melakukan katerisasi. tetapi biasanya biayanya jauh dibawah harga yang ibu sebutkan.
    tindakan katerisasi terutama ditujukan untuk mengevaluasi pembuluh darah koroner apakah ada penyumbatan atau tidak, bila ditemukan penyumbatan maka dapat dilakukan tindakan pemasangan ring atau operasi bypass, atau bahkan tidak dilakukan apapun (watchful waiting) tergantung dari karakteristik sumbatan, pasien, dll. Selama masih bisa dilakukan tanoa operasi bypass maka akan dilakukan tindakan yang lebih non invasif.

    Semoga membantu,

    Best regard,

    Robin H Wibowo

  23. Rizky Handi Alfarisy Says:

    salam kenal Dr. Robin,

    ayah saya (56) mengalami nyeri di dada baru2 ini. ayah saya memang pekerja aktif yang menurut saya kurang istirahat, namun kadang sering berolah-raga badminton seusai pulang kantor. beliau memiliki postur badan yang tidak terlalu gemuk, namun berisi dan sedikit gempal.

    setelah di cek ke dokter, ternyata positif ada penyempitan di jantung koroner. ditambah lagi dengan report kolesterol, gula darah, dan tekanan darah yg tinggi. tapi beliau belum pernah jatuh pingsan sebelumnya…

    yang ingin saya tanyakan, apakah kondisi parah atau tidaknya penyakit jantung koroner itu bisa di ukur dengan pernah atau tidaknya dia pingsan?

    dan kira2 apakah tipe untuk ayah saya ini tergolong ringan, sedang, atau berat ya Dok?

    sekian pertanyaan dari saya
    terima kasih Dr. Robin sebelumnya

  24. rodaro Says:

    Salam Kenal Bapak Rizky
    Penyakit jantung koroner (PJK) merupakan penyakit yang serius, salah satunya karena sekitar 30 persen kasus PJK tidak tertolong. Hl ini 75% terjadi pada jam pertama semenjang serangan nyeri dada dimana sering kali disebut Sudden Cardiac Death (SCD) akibat aritmia, yaitu disinkroni ritme denyut irama jantung yang menyebabkan berkurangnya aliran darah ke seluruh tubuh, terutama ke otak, sehingga mengakibatkan collpse/pingsan, bahkan kematian.
    Penggolongan PJK bukan berdasarkan riwayat adanya pingsan atau tidak. tetapi dari berbagai faktor2 resiko yang ada serta gejala klinis dan laboratoris. untuk menjawab pertanyaan bapak diperlukan data klinis yang lengkap dan kontinyu.
    yang sangat penting dalam penanganan PJK adalah healthy life style.
    semoga membantu

    terima kasih

  25. Wulan Says:

    Salam kenal dr. Robin,

    ayah saya baru2 ini mengalami operasi pemasangan ring sebanyak 3 buah, setelah dilakukan check-up, kondisi jantung ayah saya baik. yang saya ingin tanyakan,diet seperti apa yang harus dilakukan supaya jantung ayah saya dapat bertahan normal seperti sekarang ini. dan olah raga seperti apa yang baik untuk memelihara kondisi jantung ayah saya

    terima kasih

  26. chris Says:

    anak saya akan kateterisasi jantung saat beratnya 6 kilo. usianya kini 6 bulan, ada 2 katub yang harus disumbat…barapa kira kira biaya yang harus saya persiapan. domisili kami dibali, akan dilakukan tindakan di RS Sanglah.

  27. rodaro Says:

    Salam kenal Bu Wulan.
    Diet yang baik dapat dibaca lebih lanjut di artikel “Makanan Sehat Demi Jantung Sehat” di http://rodaro.otadesho.com/?p=8
    yang sempat saya muat dulu. untuk olah raga yang baik adalah olahraga yang bersifat ritmik dan isotonik, seperti senam ringan hingga sedang, jalan pagi, berenang, dll. untuk olahraga yang bersifat isometrik seperti olahraga angkat beban dan olahraga yang bersifat kompetitif seperti futsal, tenis dll lebih baik dihindari. tetapi yang terpenting adalah rutinitas dari olahraha yaitu minimal 60 menit dan dilakukan 5 hari dalam seminggu. Karena saya tidak mengetahui keadaan klinis dan fitness ayah Wulan, olahraga harus disesuaikan dengan kapasitas fisik masing2 individu.

    Semoga membantu

    Best regard,

    Robin H Wibowo
    terima

  28. rodaro Says:

    Salam kenal pak Chris

    Dari informasi yang bapak berikan, masih banyak kemungkinan diagnosis dan cara penanganan, Bisa lebih spesifik Pak? apa gejalanya, katub sebelah mana yang dimaksud, dll.
    Untuk tindakan katerisasi memang sering digunakan untuk tindakan menutup kebocoran antar dinding serambi atau bilik jantung, Hal ini tergantung dari ukuran kebocoran dan keadaan klinis anak anda. Prosedur ini mempunyai tingkat kesuksesan yang tinggi dan tingkat kegagalan yang sangat rendah, prosedurnya juga hanya sebentar.
    Di Bali, dapat langsung menghubungi Dr. I Ketut Rina, Sp JP (K). untuk konsultasi dan penanganan lebih lanjut.

    Semoga membantu

    Robin H Wibowo

  29. chris Says:

    dokter yang baik,
    diagnosa yang kami dapat dari hasil echo adalah: small moderate VSD dan moderate PDA. bisa dokter jelaskan secara singkat apa itu? dan berapa biaya yang kira kira harus kami persiapkan. dokter mengatakan kemungkinan akan dilakukan dalam 2 tindakan terpisah. Terima kasih untuk informasi dokter yang ada di bali. Saya tunggu jawabannya. terima kasih banyak.

  30. rodaro Says:

    Selamat malam Pak Chris. maaf agak telat membalas, karena akhir2 ini sibuk.
    dalam kasus anak bapak yang berusia 6 bulan, masalah utama yang harus ditangani terlebih dahulu adalah PDA ( patent ductus arteriosus) yang berukuran moderate, jadi PDA ini adalah penghubung saluran pembuluh darah antara aorta(pembuluh darah arteri utama) dan pembuluh darah paru kiri ( arteri pulmonalis kiri), saluran penghubung ini normal terdapat dalam janin selama masih dalam kandungan, begitu lahir, saluran ini normalnya menutup secara fisiologis menjadi ligamen arteriosus. pada kasus anak anda, PDA ini tetep persisten, akibatnya darah dari aorta sebagian mengalir ke pembuluh darah paru, sehingga menyebabkan beban jantung kiri semakin berat, dan sering terjadi infeksi saluran nafas. Oleh karena itulah, PDA ini menjadi hal utama yang segera harus ditutup. Untuk VSD kecil ada kemungkinan cukup besar dapat menutup secara spontan dengan berjalannya usia anak bapak. tetapi memerlukan observasi rutin.
    untuk biaya penutupan PDA cukup bervariasi, pak Chris. penutupan dapat dilakukan dengan cara bedah terbuka dengan mengikat saluran PDA tersebut secara langsung, Metode yang lebih baru dengan cara katerisasi menggunakan alat khusus yaitu AMPLATZER® Duct Occluder, yaitu semacam alat seperti payung ganda yang dipasang di saluran PDA sehingga berfungsi menutup saluran tersebut. untuk gambar alanya dapat dilihat di http://www.amplatzer.com/products/pda_devices/duct_occluder_animation/tabid/195/default.aspx
    dari segi harga kedua metode tersebut hampir sama, tetapi katerisasi mempunyai banyak kelebiha, yaitu prosedur cepat, pemulihan cepat, dan aman. untuk biaya penutupan PDA mungkin sekitar 50-80jt, pak Chris.

    Semoga membantu.

    Robin H Wibowo

  31. chris Says:

    Dokter Robin yang baik,

    Terima kasih untuk penjelasannya. Saat ini kami tengah mempersiapkan dana untuk kateterisasi yang termasuk besar biayanya bagi kami.., mudah mudahan proses kateterisasinya berjalan lancar. Terima kasih banya untuk informasinya

  32. mulyadi, cirebon Says:

    Saya usia 37 th, pada bulan maret 2011 saya mengeluh nyeri di dada kiri, tajam,seperti dicubit, berpindah-pindah,tdak setiap hari, muncul sewaktu-waktu,tidak dipengaruhi aktifitas maupun waktu istirahat,tapi masih didada kiri, untuk mengurangi nyeri minum cedocard 2×2,5 mg,tapi nyeri masih ada. Pemeriksaan lab gula darah 2 jam post prandial 240,Cholesterol total 193, trigliserida 193, LDL 116, HDL 53. Setelah berkonsultasi dengan kardiolog, diberikan pilihan tindakan kateterisasi atau CT scan angiografi. Pertengahan maret, dilakukan tindakan kateterisasi jantung, dengan hasil stenosis 40% RCA. Kemudian diberikan terapi bisoprolol 1×2,5, cardioaspirin 1×1, dan atorvastatin 1×1 tab, tapi atorvastatin ada efek alergi sehingga diganti simvastatin. Yang saya tanyakan adalah:
    1. Sampai sekarang nyeri dada kiri masih ada dan setiap hari, berpindah-pindah, di depan kadang di belakang, di dada tengah dan yang paling sering di bawah tulang clavicula, kadang muncul denyut jantung tidak beraturan di retrosternal, apakah ini akibat tindakan kateterisai atau akibat obat jantung, obat bisoprolol sudah lama distop karena muncul sesak.
    2. Konsultasi dengan kardiolog menyatakan dengan stenosis 40% tidak ada masalah, mungkina nyeri dada bukan dari jantung, tapi dari yang lain, apa sajakah itu?

  33. Tjandra Hermanto Says:

    Salam kenal dr. Robin,

    Saya Tjandra Hermanto, laki laki, Usia 62 thn.
    Saya ingin tahu apa beda nya SIROLIMUS ELUTING STENT, EVEROLIMUS ELUTING STENT, BIOLIMUS ELUTING STENT dan PACLITAXELL ELUTING STENT?
    STENT mana yang paling bagus untuk gunakan dalam pemasangan ring?
    Kondisi saya saat ini : Eccentric calcified plaque at the ostium of the LAD, with mild to moderate stenosis (30 to 50%).Eccentric soft plaque in the mild LAD, with moderate to severe stenosis (60 to 75%, the diagonal branch appears normal.

    terima kasih atas jawabanny.

  34. intan Says:

    salam kenal!!
    apakah boleh ibu yang hamil melakukan pemasangan kateterisasi pada jantung??
    tolong segera dibalas.trima kasih

  35. pak Ahmad Says:

    Mohon informasinya, anak sy umur 1 thn 5 bln. Rekaman medis dr lahir ada kelainan, yaitu pembuluh darah jantung yan? menuju paru-paru lebih sempit dr yang lainny/normal.pertanyaannya;
    1. Karena sudah bawaan lahir dan rekaman medisnya dari umur 3 bulan sampai 1 thn 5 bulan ini, dan memang ukuran pembuluh darahnya lebih kecil/sempit dr yang normal(tdk terjadi penyempitan dr ukuran semula). Apakah perlu kateteriasi?
    2.Apakah ada tindakan lain yang lebih tepat berhubung karena yang ditindak bayi 1thn 5bln.
    3.Berapa lama masa pemulihan pasca kateterisasi umumnya untuk bayi?
    4.Apa pertimbangan saya sebelum ditindak (jika dikateterisasi)?

    Mohon dengan sangat jawabannya. Terima Kasih…

  36. rodaro Says:

    selamat malam pak ahmad,
    maaf atas keterlambatan respon saya.
    1. penyempitan /stenosis pulmonal memang bisa terjadi pada pra katup, pada katupnya atau supra katup. untuk kasus bapak diperlukan data lebih apakah yang dimaksud adalah penyempitan di supra katup. katerisasi diperlukan selain untuk angio grafi / ventrikulo grafi yang merupakan pencitraan untuk memberikan diagnosis yang lebih akurat dan untuk menghitung secara lebih akurat tekanan paru atau gradien tekanannya.
    2. saya rasa echocardiografi atau ct scan merupakan alat diagnostik lain yang dapat digunakan. tetapi katerisasi memang diperlukan untuk membuat keputusan manajemen klinis apakah diperlukan tindakan reparasi atau konservatif.
    3. untuk bayi pemulihan biasanya 1-2 hari
    4. pertimbangan terutama persiapan dari kesehatan bayi, pemeriksaan darah sebelumnya, persiapan psikologis keluarga, biaya, dan spiritual

    semoga membantu,

    RD Robin H Wibowo
    terimakasih

  37. christiana Says:

    Mohon informasi, apakah sesudah memperoleh tindakan trombolitik, tetap harus melakukan katerisasi. Jenis stent/ring bermacam-macam2, mengapa dan apa perbedaanya? Berapa kira2 biaya per stent/ringnya di RS Harapan Kita?. Sebelumnya terima kasih banyak

  38. sonny Says:

    saya masih kurang nyaman pasca pemasangan ring. Masih saya rasakan kadang muncul kadang hilang rasa nyeri di dada kiri. Apakah memang seperti itukah kondisinya?…saya divonis harus pasang 2 ring namun baru dipasang 1 mengingat penyempitan yang satu masih 80% (harusnya pasang ring, tapi biaya gak ada)

Leave a Reply